Nasihat oentoek Pedjalan

14882164_10207874448727426_38159218437047291_o

Djalan masihlah pandjang oentoek boeng.

Beloem dihabiskan poela bekal jang boeng bawa dari roemah kemarin.

Soengai masih melintang di sisi djalan.

Masih ada air oentoek diminoem!

Beloem waktoenja boeng oentoek risaoe

Semoea masih sama amannja.

 

Djalan mengoelar di depan sana.

Hadapi dengan tenang.

Terkadang ia naik, dan boeng akan terengah

Tapi soeatoe waktoe ia toeroen djoea dan boeng bisa menarik nafas.

Moengkin boeng akan tersesat.

Namoen tak perloe risaoe karena hoetan kaja akan oembi djalar dan bamboe.

Berhentilah oentoek memetakan oelang roete.

Boeng soedah terlatih boekan?

 

Hati-hati terhadap malam.

Biarpoen tiada bagong hoetan jang riboet,

namoen ada matjan jang mengintai pelan.

Bilamana itoe waktoe datang, ingat dengan soemboe api boeng jang bisa menjala.

Njalakan!

Oesir!

Dan bersiaga hingga pagi datang.

Dan bila pagi datang, djangan loepa berdjemoer.

Tidak setiap hari matahari menjinari hoetan dan goenoeng.

Seringkali dingin dan hoedjan tak tentoe.

Makan djoega perbekalan.

Nikmati sedjenak.

 

Berdjalan lah teroes boeng ke oetara.

Lewat djalanan kerikil dan terkadang berpasir.

Awas ada pohon jang toembang, dan tanah longsor.

Djoega kaboet.

Boeng hadapi lah itoe semoea.

Semoea akan berakhir pada oedjoengnja.

Entah poentjak goenoeng, ataoe samoedra lepas.

Dan boeng akan takdjoeb melihat betapa jaoehnja djarak jang boeng telah tempoeh.

 

 

 

 

Advertisements

Akhir Tahun

Di penghujung 2017, di siang yang woles dan tenang. Di antara edaran broadcast meniup terompet tahun baru adalah kegiatan yang menjurus ke perbuatan menyimpang agama, tiba-tiba Widdy, teman SMA saya mengirim pesan di whatsapp.

“Ja, jadi ya makan ramen jam 5 sore.”

Tanpa pikir panjang saya bilang “oke.”

“Mampus, aing ntar disangka kafir juga nih keluar tahun baru gini.”

Hehe, itu pikiran liar saya aja. Karena yang jadi persoalan adalah bukan merayakan tahun barunya, tapi silaturahminya. Sudah lama saya nggak ketemu si Widdy. Jaraknya padahal cenderung dekat, di Cibubur. Tapi kesibukan masing-masing memang membuat kita jarang punya waktu  kosong.

Widdy sebenernya udah broadcast di grup sepenongkrongan kami, kalau tahun baru ingin ketemu. Sayang respon penghuni grup cukup males-malesan. Akhirnya dengan effort yang cukup berat dari si master Cibubur ini, 3 (saya, widdy, dan opus) dari 13 penghuni grup ikhlas lillahitaala untuk bertemu.

Singkat cerita kami bertemu, makan ramen, dan ngobrol-ngobrol santai.

Obrolannya standar anak reuni: ngomongin kegoblokan aktivitas kami waktu dulu masih pake seragam. Mulai dari guyonan khas jaman dulu, ghibah  menganalisis kegagalan percintaan teman sekelas, ditegur guru, dan obrolan standar orang reuni lainnya.

SMA memang ajaib, kejadiannya udah lewat lama, tapi entah kenapa nggak akan bosan kami perbincangkan sampai hari ini. Pun tingkat kelucuan yang dirasakan. Nggak akan berkurang sedikit pun meski diulang tiap kita ketemu. 3 jam kita ngobrol tanpa liat handphone. Langka. Kapan lagi saya bisa kaya gini.

Selepas makan ramen, kita beralih ke tempat biliar. Memesan satu table untuk 2 jam, dan menolak diskonan bir Bali Hai. 3 orang islam menghabiskan malam tahun baru di tengah edaran whatsapp yang mendiskreditkan orang bertahun baru, di sebuah tempat biliar, tanpa rokok dan bir. Serasa hidup di parallel universe. Hipster abis.

Kami bercengkrama, lagi dan lagi. Sambil memertontonkan skill amatir biliar di hadapan mas-mas waiter yang liatin dan (mungkin bergumam):

“Ieu budak foul weh jeung foul.”

WhatsApp Image 2018-01-04 at 22.38.53Beneran foul…

2 jam lewat tanpa terasa, atau dengan kata lain 5 jam sudah saya bareng mereka. Waktu sudah menunjukan jam 10 malam. Rasanya letih dan ingin pulang.

Dasar Widdy mungkin kangennya lagi eksplosif. Dia kepingin liat kembang api di Dago.

“Ja, pus, ka dago yuk.”

“Yakin? macet kali wid.” Bales saya (biar cepet pulang sih).

“Ga akan lahh dari tadi juga sepi. Whatsapp effect ja.”

“Terserah urang mah, asal maneh bayarin jajan.” Opus cengar-cengir.

“Gimana ja?” Widdy tanya lagi.

“Hayu deh.” Jawab saya singkat. Udah capek sih sebenernya.

WhatsApp Image 2018-01-01 at 09.14.36
bos tukang traktir

Jalanan Bandung memang lagi sepi, nggak ramai seperti tahun baru sebelum-sebelumnya. Cuma ramai di Dago giri saja, terus sampai ke atas (cuma?). Ke kafe-kafe mahal yang berjejeran di Dago atas.

Rasanya Widdy tau kalau 2 sidekicknya udah males-malesan. Dia aktif membuka obrolan. Kegiatan kantor konstruksinya cukup sibuk belakangan. Dan dia makin jarang pulang ke Bandung. Juga menyayangkan teman sepenongkrongan yang makin berkurang intensitas bertemu atau sekadar meramaikan grup chat.

“Sibuk mungkin wid.” Saya singkat aja.

“Ada yang punya pacar juga.” Opus nimpalin.

“Iya ya.”

Mungkin inilah rasanya menginjak umur kepala dua. Setiap dari kita pasti merasa bergairah luar biasa menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan kedewasaan di luar sana. Mendapatkan gaji, bangun pagi, lembur, mencicil, bertemu orang-orang baru yang kita kagumi.

Seiring waktu keinginan kita juga berkembang dan berubah. Relasi semakin bertambah, sementara waktu luang semakin menyempit. Namun waktu yang tersedia masih tetap 24 jam setiap harinya. Hingga akhirnya muncul lah seleksi prioritas: mana yang harus didahulukan terlebih dahulu?

Lalu di satu waktu sebagian dari kita ingin ‘pulang’ dan merekoneksi yang ada di belakang. Mencoba untuk bertatap kembali. Beberapa mundur satu langkah, sementara yang lain mundur dua langkah, dan ada pula yang lebih dari tiga langkah. Semua mundur sesuai kenyamanan masing-masing sehingga menjadikan definisi ‘pulang’ dan ‘rumah’ tidak lagi sama antara satu dengan lainnya.

Semua orang punya pemahaman berbeda soal rumah masing-masing. Dan betapa sepinya mendapati apa yang kita sebut rumah tidak lah lagi menjadi rumah bagi sebagian orang yang dulu pernah menetap bersama.

Kalau pun ada yang sama-sama menganggap rumah, belum tentu juga bisa pulang di waktu yang sama.

Inilah rasanya mengembara di alam dewasa. Dan kita tidak bisa mengutuki pilihan orang lain. Karena kita menyayangi satu sama lain. Dan tentu ingin semua dari kita berbahagia. Pilihan pun menjadi tidak ada selain: menghormati pilihan yang sudah diambil oleh masing-masing dari kita. Sambil mendoakan.

Lamat-lamat suara terompet melemah, latte sudah habis diminum, dan tidak ada lagi keluhan di antara kita bertiga. Seolah kita sudah cukup memahami meski tanpa berbicara mengenai itu sama sekali.

Jam 00.30 kita pulang.

Inilah 2018, awal dari bentuk kedewasaan kami yang lain.

Ilustrasi gambar cover dicomot dari : viva.co.id

 

 

30 Hari Bercerita: Sebuah Pembuka

Jadi, beberapa hari terakhir ini  saya liat beberapa postingan instagram temen-temen saya  yang hmm nggak biasa. Masing-masing mengisi feed dengan caption yang panjang-panjang diakhiri dengan hashtag #30haribercerita. Menarik saya pikir.

Jadi selama 30 hari temen-temen saya akan menceritakan hal-hal yang mereka tau dari yang penting sampe nggak penting. Dari yang pengalaman pribadi, sampe hal-hal unik yang jarang dibahas. Singkat cerita: duh, saya pengen ikutan juga.

Tapi eh tapi, rasanya ruang instagram saya enggak terlalu bebas-bebas amat karena banyak mata-mata berbahaya ha ha ha (sebut bapake dan sodarake). Saya jadi ragu buat numpahin isi kepala saya.

Rasanya agak males juga sih liat semua isi kepala saya tumpah semua di instagram, dan jadi konsumsi publik (maaf akoh insecure anaknya). Juga, nanti membuat yang gebet saya keenakan buat kepo (ketawa mamah dedeh). KALAU ADA.

Selain itu, ruang instagram cukup terbatas buat nulis posting panjang. Jadi nggak seru kalau tulisan saya disunting supaya semuanya muat dalam satu post instagram (dikira gue wartawan koran).

Akhirnya saya memutusken, sebagai penulis asal-asalan yang emang jarang punya panggung semacem ini untuk tidak terperdaya dengan mata-mata tersebut. Akhirnya saya akan buat penyesuaian.

Keputusannya: saya akan posting 30 hari di blog saya aja (itu berarti 30 posting) dan membagi beberapa yang menurut saya cukup aman dan menarik dibaca umum di instagram. Yah, jarang-jarang juga kan ada event semacam ini. Lumayan untuk mengasah kemampuan menulis ala kadarnya saya.

Tulisan saya mungkin akan menyingkap banyak hal, bisa dari pengalaman pribadi, hobi, sampe yang berat-berat (puisi kangen dia misalnya) *ketek*. Saya akan share semuanya di akun twitter sampai Februari selesai. Yah, siapa juga yang main twitter belakangan ini kan.

Saya juga terbuka dengan bermacam komentar, jadi nggak usah ragu ya kalau mau complaint karena nyampahin timeline.

Jadi, yak oke mari kita mulai.

Stay tuned!

Gebrakan Revolusioner Produsen Rokok Melalui Konser Musik

Barasuara x Scaller di Urban Gigs. Sumber: Media Indonesia

Rokok, seperti kita tahu-menahu-ketahui bersama sudah menjadi barang pokok bagi kebanyakan masyarakat negeri kita tercinta. Pelbagai kalangan sudah merasa terjerat dalam dunia ena-ena menghirup dan menghembuskan nafas. Kesampingkan dahulu angka-angka statistik lembaga survei dan aktivis kesehatan yang menautkan rokok sebagai sumber kesakitan dan kemiskinan bangsa. Karena produsen rokok aktif dan rutin menyumbangkan rupiahnya di sektor-sektor yang lucunya menjadi penopang identitas bangsa.

Tercatat pada tahun 2015, 4 perusahaan rokok terbesar di Indonesia, memberikan sumbangan cukai bagi negara hingga mencapai Rp. 139,5 triliun. Itu baru uang, belum sumbangan lain industri rokok berupa: dukungan dana bagi industri kreatif (konser musik, et cetera), dunia olahraga (ingat PB Djarum?), sampai bahkan dunia pendidikan (beswan Djarum).  Belum lagi dari penyerapan tenaga kerja, ada sekitar 5,8 juta orang yang bekerja dalam sektor ini.

Meski begitu, mungkin nyaris semua orang sepakat menyebutkan kerusakan dari rokok juga cukup masif dan rasanya membuat neraca kebaikan rokok kalah berat dengan keburukannya bagi banyak kalangan. Pemerintah pun mulai membatasi ruang gerak industri rokok dengan bermacam cara dari mulai menaikan pajak rokok, memperluas area bebas rokok, dan membatasi iklan rokok di televisi. Nah catat yang terakhir.

Sadar gak kalau iklan rokok di TV rasanya jarang muncul di prime time saat orang sedang banyak-banyaknya nonton TV? (kecuali kalau ada acara bulutangkis sih). Jadi, kita tidak akan melihat iklan rokok saat pagi-pagi atau saat kita nonton acara TV yang berpotensi ditonton anak-anak.

Dan sepertinya, industri rokok makin keblinger dengan wacana pemerintah yang akan melarang produsen rokok untuk beriklan di Televisi. Karena di seluruh dunia ini, ternyata sudah ada 144 negara yang melarang rokok tampil di TV dan radio. Bahkan di ASEAN, Indonesia menjadi satu-satunya negara  yang masih memperbolehkan iklan rokok tampil di media penyiaran radio dan Televisi. Kalah oleh Vietnam yang 100% melarang rokok mempromosikan diri baik di media (TV, radio, billboard, koran/majalah, dll), maupun CSR.

Ini gawat, karena selidik demi selidik pemasaran rokok yang paling efektif adalah dari iklan televisi. Mungkin sadar ada kemungkinan bahwa suatu saat Indonesia akan melarang iklan rokok di Televisi, kini produsen rokok mencoba cara baru untuk tetap menggaet konsumen mereka, khususnya kalangan konsumen anak muda. Continue reading

Kuharap hujan turun sore ini

10895251_439169342897994_1369307045_n.jpgKuharap hujan turun sore ini.

Membasahi pekarangan; menciumi bunga-bunga yang mulai layu.

Membasuh beranda; mengusiri debu yang melekat pada kursiku.

 

Namun sial, ia tak kunjung singgah;

barang sebentar saja.

 

Kupandang mendungnya awan memilih untuk menjauh.

Mengantarkan hujan berjatuhan di tempat lain.

 

Kini langit muram menjadi benderang kembali.

Menghembuskan angin beserta debu baru ke pekarangan.

 

Masa bodoh lah.

Kubiarkan saja kursiku pasrah ditimbun debu.

Dan bungaku layu tak tersentuh air.

 

Akan kusimpan keringat dan air mata;

untuk diriku sendiri.

 

Nyinyir menyinyir

Nyinyir. Menurut KBBI, arti kata nyinyir adalah…

nyi·nyir a mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet: nenekku kadang-kadang — , bosan aku mendengarkannya;
ke·nyi·nyir·an n hal (keadaan, sifat) nyinyir

Tapi siapa sangka, bahasa toh nyatanya bisa berkembang dan berubah maknanya, tergantung umat manusia mau pake kaya gimana. Dan pada akhirnya, kita mendapati nyinyir sebagai suatu hal yang bermakna negatif.

Nyinyir mulai berubah dan diartikan sebagai: nyindir.

Kasian, kalau nyinyir bisa ngomong mungkin dia sedih karena arti dia yang udah disepakati oleh profesor-profesor ahli bahasa lulusan S-3 malah dipelintir dan dikenal buruk akibat sering diperbincangkan di forum-forum gosip. Down graded abis.

Anyway terlepas dari intro saya yang nggak terlalu jelas, toh pada akhirnya kita sepakat juga kalau nyinyir jadi kata yang paling hits akhir-akhir ini. Di medsos atau di kehidupan nyata. Laki-laki atau perempuan. Tua atau muda.

Mengglobal deh si nyinyir ini.

Bentuk dari nyinyir juga macem-macem dari yang jelas-jelas terang-terangan diungkapkan orang, diomongin di belakang yang dinyinyirin, bahkan banyak juga yang kreatif sok-sok bikin sarkasme biar kelihatan intelek. Well, nyinyir mah nyinyir aja.

Nyinyir juga lama-lama jadi hal yang biasa, entah karena memang medsos macem lambe turah lagi menjamur. Atau karena memang dasar manusia aja yang suka gosip. Atau, bisa jadi karena orang-orang juga makin hari makin pintar untuk jadi ahli di bidang-bidang tertentu, jadi suka ngecap yang orang salah dan bla bla bla (thanks to google). Ada juga yang membanyol dan dijadiin lelucon waktu lagi kumpul. Wah, makin memasyarakat deh si nyinyir.

Dan sialnya adalah, nyinyir sepertinya udah jadi hal yang biasa, dan sering kita lontarkan tanpa sadar bahwa mungkin ada orang yang tersinggung sama nyinyiran kita. Karena… HEI! ini negara demokrasi kali, gue bebas mengutarakan pendapat gue. Yha, bener juga sih.

Tapi.. pernah nggak sih kita mikir, kalau nyinyir mungkin bisa berakibat fatal buat sebagian orang?

Denger cerita-cerita orang-orang bunuh diri akhir-akhir ini?

Saya yakin, mereka loncat atau gantung diri bukan karena kelewat baper. Karena memang, kehidupan mereka mungkin lebih buruk dari kita. Dan bukan berarti mereka gampang nyerah, justru mungkin mereka lebih kuat dari kita-kita karena harus menghadapi ujian yang lebih parah dari sekedar di delete kontak tindernya sama mbak2 yang udah ngobrol semalem suntuk sama kita.

Harsh.

“Kalo lu depresi ya banyak ibadah dong!” sebagian kita mungkin ngomong gitu.

Tapi mungkin, mereka udah ibadah semaksimal yang mereka bisa, tapi bisa jadi nggak menyelesaikan masalah.

“Curhat ke temen lah!”

Mungkin ada yang udah, tapi malah jadi bahan nyinyir kalian. Atau, karena saking takutnya dijudge sama kita yang suka nyinyir, mereka nggak berani cerita.

“Ya udah jangan dengerin kata orang lah, g****!”

Bisa jadi mereka udah berusaha keras untuk bodo amat. Tapi tetap nggak menolong juga.

“Ah, cengeng si Abdul aja yatim-piatu nggak dapet warisan tetep bisa jadi profesor kok.”

Ah, ini juga nih yang paling common, membandingkan masalah satu orang dengan orang yang lain.

Pada akhirnya, jujur aja (bahkan untuk saya sendiri) sangat gampang untuk menemukan alasan untuk nyinyir. Apalagi, memang banyak juga contoh yang bisa diambil dari orang-orang sukses di internet sana sehingga kita sering jadiin itu acuan untuk ceramahin orang-orang yang di posisi nggak enak.

Padahal, kenyataan yang mereka hadapi nggak segampang itu. Mungkin ada yang masalahnya terdengar sepele di pikiran kita, tapi belum tentu dia orang yang memang kuat untuk menghadapi itu. Karena, toh kemampuan orang untuk selesaikan masalah juga nggak selalu sama.

Dan hei, memang siapa sih kita bisa ngejudge masalah ini receh dan masalah yang itu berat?

Yang saya mau ingetin disini adalah semua orang punya pergulatan di diri mereka sendiri. They have their own struggle. Jadi, bukan hak kita untuk mengomentari itu.

Juga bukankah terlihat buruk banget kan kita kalau kita bukannya menolong, malah memperparah keadaan. Udah jatuh, tertimpa tangga, diketawain pula. Jahat amat kita ya.

Ibarat liat tetangga kelaparan, bukannya dikasih makan tapi malah ceramahin biar kerja keras, dan cari pekerjaan yang layak.

Jadi, please kawan-kawan sebisa mungkin untuk berhenti nyinyir kehidupan orang lain, dan berusaha memberikan moral support berupa empati terlebih dahulu. Coba juga mengandaikan gimana rasanya kita kalau ada di posisi mereka.

Karena kalau kita enggak berhati-hati, bisa jadi kita malah memperparah keadaan seseorang. Dan nggak menutup kemungkinan buat mereka untuk mengambil keputusan yang membahayakan nyawa mereka. Tanpa pikir panjang.

Sebisa mungkin untuk menjaga omongan. Don’t be a dick.

Akhir kata, kalau kamu memang merasa nggak bisa menolong, stop saying bad things about them. Be nice to everyone.

 

Sebelah Mata

 

“Tapi sebelah mataku yang lain menyadari gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang.”

Sepenggal lirik lagu dari band indie Efek Rumah Kaca itu ditulis oleh Cholil, sang vokalis untuk mengekspresikan kekagumannya pada sang basis, Adrian yang terserang penyakit retinitis pigmentosa pada sebelah matanya. Penyakit yang mengurangi daya lihat seseorang yang bisa menyebabkan kebutaan.

Kini Adrian kehilangan seluruh kemampuan penglihatannya dan baru saja merilis album solo berjudul Sintas, klik disini untuk membaca.

Dan penggalan lagu inilah yang selalu terngiang dalam benak saya ketika saya tidak sengaja menjumpai orang-orang yang memiliki keterbatasan visual. Baik itu low vision, atau total blindness, atau disfungsi mata lainnya.

Dari seorang low vision, gelap akan perlahan menutup pandangan dari pinggiran-pinggiran sudut penglihatan hingga hanya bagian tengah saja yang terlihat. Dan terus menyempit merenggut penglihatan mereka.

Adapun seorang total blind melihat hamparan kosong dari kedua pandangannya. Tak dapat merefleksikan bentuk dari matanya.

Semua tertutupi, dan terus dibawa matanya dalam kehidupan sehari-harinya.

 

Dari lagu ini saya sering berpikir…

Apakah gelap memang hanya dimiliki kawan-kawan yang memiliki keterbatasan penglihatan saja?

Saya rasa tidak.

 

Gelap, bagaimanapun juga akan selalu ada dalam diri tiap manusia. Mengikuti kita selalu dalam apa yang kita lihat dan apa yang kita lakoni setiap hari. Gelap akan terus membayang dan terefleksi dari bentuk tindakan masing-masing kita.

Manusia yang pernah menyakiti manusia lainnya, mungkin akan berhati-hati di kemudian hari. Atau justru ketagihan untuk mengulanginya.

Manusia yang pernah terjerat dalam keburukan, mungkin akan terus menikmati rasanya menjadi buruk. Atau justru bosan menjadi buruk.

Manusia yang pernah gagal dalam menakar resiko, mungkin akan berwaspada mengambil resiko di kemudian hari. Atau justru  diam dan kapok dalam mengambil resiko.

Begitulah gelap akan terus membayangi manusia. Entah itu menambah kecakapan dalam menguasai tali kekang untuk mengontrol tindakannya di kemudian hari, atau justru diam berhenti tidak melakukan apapun.

Masa lalu, kekurangan kita, nafsu kita, juga hal-hal lain yang kita anggap berat dalam diri kita akan terus terbawa dalam setiap diri masing-masing. Suka atau tidak suka, mereka selalu hadir dalam pandangan kita.

Gelap akan hadir sebagai teman bilamana kita bisa berdamai dengannya. Atau justru menjadi teror yang menakuti kita.

 

HAMPA

Sering kita bersenang senang bersama orang orang. Lalu ketika pulang dan sendiri merasa tak ada artinya. Itu hampa

Makan malam di restoran mewah menikmati apa yang tersedia disana. Sepulangnya kita merasa itu tak mengisi jiwa yang lapar. Hampa

Berlagak gila berbuat aneh aneh dan ketika itu merasa bahwa ini adalah pelampiasan rasa, namun di akhir hari nyatanya tak berguna. Hampa

Merasa bahwa tawa dan cinta saat ini adalah jawaban dari pertanyaan kita akan kasih sayang, namun dalam kesendirian kita tidak yakin dan masih bertanya tanya. Hampa

Tapi di lain hari kita berjalan sendiri lalu memberi sebagian kecil untuk seorang fakir yang butuh, Ia berterimakasih tak terhingga. Kita merasa berguna. Kita ada,

Di saat kawan yang terluka dan kita meraihnya tanpa diminta. Ia terharu hingga tersungkur padamu. Kita berguna. Kita ada,

Memberi apa yang kita kuasai kepada mereka yang haus wawasan hingga mereka terdidik. Kita berguna. Kita ada.

Berusaha keras mengerjakan karya yang kita tujukan untuk orang banyak agar bermanfaat untuk kehidupan. Kita berguna. Kita ada.

Semua kesendirian dan kebutuhan satu arah yang selalu kita kejar membuat hidup terasa tak akan terisi.

Karena hati dan rasa puas ini adalah lubang hitam tak berujung yang tak akan penuh dalamnya.

Ruang keinginan kita bagai pusaran yang kian besar apabila terus diberi dan tanpa sadar kita tersedot hingga habis.

Perkecil saja semua lubang ini dengan memberi ke tidak untuk diri sendiri. Tapi orang lain. Itu akan memperkecil keinginan kita untuk terus mengisi pusaran individu.

Kita tidak bisa memenuhi jiwa kita sendiri. Biarkan orang lain yang mengisi kekosongan itu. Dan relakanlah diri ini untuk mengisi kekosongan mereka.

Karena kita semua manusia yang harus berbagi. Sekecil apapun bagilah.

Dengan itu kita akan terisi. Tak akan penuh namun setidaknya tak akan lagi hampa.

Iga Massardi

Sering kita bersenang senang bersama orang orang. Lalu ketika pulang dan sendiri merasa tak ada artinya. Itu hampa

Makan malam di restoran mewah menikmati apa yang tersedia disana. Sepulangnya kita merasa itu tak mengisi jiwa yang lapar. Hampa

Berlagak gila berbuat aneh aneh dan ketika itu merasa bahwa ini adalah pelampiasan rasa, namun di akhir hari nyatanya tak berguna. Hampa

Merasa bahwa tawa dan cinta saat ini adalah jawaban dari pertanyaan kita akan kasih sayang, namun dalam kesendirian kita tidak yakin dan masih bertanya tanya. Hampa

Tapi di lain hari kita berjalan sendiri lalu memberi sebagian kecil untuk seorang fakir yang butuh, Ia berterimakasih tak terhingga. Kita merasa berguna. Kita ada,

Di saat kawan yang terluka dan kita meraihnya tanpa diminta. Ia terharu hingga tersungkur padamu. Kita berguna. Kita ada,

Memberi apa yang kita kuasai kepada mereka yang haus wawasan hingga mereka terdidik. Kita berguna. Kita ada.

Berusaha keras mengerjakan…

View original post 136 more words

Kopi Jam Dua Malam

Tuhanku, malam ini kita bertemu sekali lagi
Di kedai yang sama
Jam dua malam

Aku curahkan kembali pertanyaan yang tak kunjung kupecahkan
Juga isi hatiku yang tak elok-elok amat
Aku minta satu-dua hal yang entah apa layak Engkau berikan padaku
Aku minta ampun atas kesalahan sama yang aku ulangi kembali

Satu jam kita berbicara
Kau mendengarkan sambil menyesap kopi semesta
Aku rasakan kau hadir dihadapanku
Namun tak bisa ku menerka wajahMu

Iba kah Engkau?
Acuh kah Engkau?
Atau bahkan, marah kah Engkau?

Entahlah, tapi mulutku tak kuasa berhenti
Aku terus berbicara
Tak ada lagi kawan malam itu

Air mataku mengalir dalam gelas
Hingga penuh gelasku
Kuminum dengan getir,
satu-satunya minuman yang kudapatkan malam itu
Pahit

Seketika aku bisa rasakan wajahMu
Kulihat kasih terpancar di depanku
Dan cinta bertebaran di ruangan
Kau tersenyum riang
Seakan menemukan kawan yang hilang

Lalu Kau tepuk pundakku,
Dan bagi kopi semesta dalam gelasku

“Minumlah dengan penuh syukur!”
Kau berucap…
“Pulanglah hambaku, sesungguhnya banyak hal yang menunggumu di rumah.
Biar kuteraktir minumanmu, dan jangan pula kau ragu menemuiku disini.
Aku tak akan pergi kemana.”

Engkau tersenyum
Kuhabiskan kopiku tanpa sisa