Nyinyir menyinyir

Nyinyir. Menurut KBBI, arti kata nyinyir adalah…

nyi·nyir a mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet: nenekku kadang-kadang — , bosan aku mendengarkannya;
ke·nyi·nyir·an n hal (keadaan, sifat) nyinyir

Tapi siapa sangka, bahasa toh nyatanya bisa berkembang dan berubah maknanya, tergantung umat manusia mau pake kaya gimana. Dan pada akhirnya, kita mendapati nyinyir sebagai suatu hal yang bermakna negatif.

Nyinyir mulai berubah dan diartikan sebagai: nyindir.

Kasian, kalau nyinyir bisa ngomong mungkin dia sedih karena arti dia yang udah disepakati oleh profesor-profesor ahli bahasa lulusan S-3 malah dipelintir dan dikenal buruk akibat sering diperbincangkan di forum-forum gosip. Down graded abis.

Anyway terlepas dari intro saya yang nggak terlalu jelas, toh pada akhirnya kita sepakat juga kalau nyinyir jadi kata yang paling hits akhir-akhir ini. Di medsos atau di kehidupan nyata. Laki-laki atau perempuan. Tua atau muda.

Mengglobal deh si nyinyir ini.

Bentuk dari nyinyir juga macem-macem dari yang jelas-jelas terang-terangan diungkapkan orang, diomongin di belakang yang dinyinyirin, bahkan banyak juga yang kreatif sok-sok bikin sarkasme biar kelihatan intelek. Well, nyinyir mah nyinyir aja.

Nyinyir juga lama-lama jadi hal yang biasa, entah karena memang medsos macem lambe turah lagi menjamur. Atau karena memang dasar manusia aja yang suka gosip. Atau, bisa jadi karena orang-orang juga makin hari makin pintar untuk jadi ahli di bidang-bidang tertentu, jadi suka ngecap yang orang salah dan bla bla bla (thanks to google). Ada juga yang membanyol dan dijadiin lelucon waktu lagi kumpul. Wah, makin memasyarakat deh si nyinyir.

Dan sialnya adalah, nyinyir sepertinya udah jadi hal yang biasa, dan sering kita lontarkan tanpa sadar bahwa mungkin ada orang yang tersinggung sama nyinyiran kita. Karena… HEI! ini negara demokrasi kali, gue bebas mengutarakan pendapat gue. Yha, bener juga sih.

Tapi.. pernah nggak sih kita mikir, kalau nyinyir mungkin bisa berakibat fatal buat sebagian orang?

Denger cerita-cerita orang-orang bunuh diri akhir-akhir ini?

Saya yakin, mereka loncat atau gantung diri bukan karena kelewat baper. Karena memang, kehidupan mereka mungkin lebih buruk dari kita. Dan bukan berarti mereka gampang nyerah, justru mungkin mereka lebih kuat dari kita-kita karena harus menghadapi ujian yang lebih parah dari sekedar di delete kontak tindernya sama mbak2 yang udah ngobrol semalem suntuk sama kita.

Harsh.

“Kalo lu depresi ya banyak ibadah dong!” sebagian kita mungkin ngomong gitu.

Tapi mungkin, mereka udah ibadah semaksimal yang mereka bisa, tapi bisa jadi nggak menyelesaikan masalah.

“Curhat ke temen lah!”

Mungkin ada yang udah, tapi malah jadi bahan nyinyir kalian. Atau, karena saking takutnya dijudge sama kita yang suka nyinyir, mereka nggak berani cerita.

“Ya udah jangan dengerin kata orang lah, g****!”

Bisa jadi mereka udah berusaha keras untuk bodo amat. Tapi tetap nggak menolong juga.

“Ah, cengeng si Abdul aja yatim-piatu nggak dapet warisan tetep bisa jadi profesor kok.”

Ah, ini juga nih yang paling common, membandingkan masalah satu orang dengan orang yang lain.

Pada akhirnya, jujur aja (bahkan untuk saya sendiri) sangat gampang untuk menemukan alasan untuk nyinyir. Apalagi, memang banyak juga contoh yang bisa diambil dari orang-orang sukses di internet sana sehingga kita sering jadiin itu acuan untuk ceramahin orang-orang yang di posisi nggak enak.

Padahal, kenyataan yang mereka hadapi nggak segampang itu. Mungkin ada yang masalahnya terdengar sepele di pikiran kita, tapi belum tentu dia orang yang memang kuat untuk menghadapi itu. Karena, toh kemampuan orang untuk selesaikan masalah juga nggak selalu sama.

Dan hei, memang siapa sih kita bisa ngejudge masalah ini receh dan masalah yang itu berat?

Yang saya mau ingetin disini adalah semua orang punya pergulatan di diri mereka sendiri. They have their own struggle. Jadi, bukan hak kita untuk mengomentari itu.

Juga bukankah terlihat buruk banget kan kita kalau kita bukannya menolong, malah memperparah keadaan. Udah jatuh, tertimpa tangga, diketawain pula. Jahat amat kita ya.

Ibarat liat tetangga kelaparan, bukannya dikasih makan tapi malah ceramahin biar kerja keras, dan cari pekerjaan yang layak.

Jadi, please kawan-kawan sebisa mungkin untuk berhenti nyinyir kehidupan orang lain, dan berusaha memberikan moral support berupa empati terlebih dahulu. Coba juga mengandaikan gimana rasanya kita kalau ada di posisi mereka.

Karena kalau kita enggak berhati-hati, bisa jadi kita malah memperparah keadaan seseorang. Dan nggak menutup kemungkinan buat mereka untuk mengambil keputusan yang membahayakan nyawa mereka. Tanpa pikir panjang.

Sebisa mungkin untuk menjaga omongan. Don’t be a dick.

Akhir kata, kalau kamu memang merasa nggak bisa menolong, stop saying bad things about them. Be nice to everyone.

 

Sebelah Mata

 

“Tapi sebelah mataku yang lain menyadari gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang.”

Sepenggal lirik lagu dari band indie Efek Rumah Kaca itu ditulis oleh Cholil, sang vokalis untuk mengekspresikan kekagumannya pada sang basis, Adrian yang terserang penyakit retinitis pigmentosa pada sebelah matanya. Penyakit yang mengurangi daya lihat seseorang yang bisa menyebabkan kebutaan.

Kini Adrian kehilangan seluruh kemampuan penglihatannya dan baru saja merilis album solo berjudul Sintas, klik disini untuk membaca.

Dan penggalan lagu inilah yang selalu terngiang dalam benak saya ketika saya tidak sengaja menjumpai orang-orang yang memiliki keterbatasan visual. Baik itu low vision, atau total blindness, atau disfungsi mata lainnya.

Dari seorang low vision, gelap akan perlahan menutup pandangan dari pinggiran-pinggiran sudut penglihatan hingga hanya bagian tengah saja yang terlihat. Dan terus menyempit merenggut penglihatan mereka.

Adapun seorang total blind melihat hamparan kosong dari kedua pandangannya. Tak dapat merefleksikan bentuk dari matanya.

Semua tertutupi, dan terus dibawa matanya dalam kehidupan sehari-harinya.

 

Dari lagu ini saya sering berpikir…

Apakah gelap memang hanya dimiliki kawan-kawan yang memiliki keterbatasan penglihatan saja?

Saya rasa tidak.

 

Gelap, bagaimanapun juga akan selalu ada dalam diri tiap manusia. Mengikuti kita selalu dalam apa yang kita lihat dan apa yang kita lakoni setiap hari. Gelap akan terus membayang dan terefleksi dari bentuk tindakan masing-masing kita.

Manusia yang pernah menyakiti manusia lainnya, mungkin akan berhati-hati di kemudian hari. Atau justru ketagihan untuk mengulanginya.

Manusia yang pernah terjerat dalam keburukan, mungkin akan terus menikmati rasanya menjadi buruk. Atau justru bosan menjadi buruk.

Manusia yang pernah gagal dalam menakar resiko, mungkin akan berwaspada mengambil resiko di kemudian hari. Atau justru  diam dan kapok dalam mengambil resiko.

Begitulah gelap akan terus membayangi manusia. Entah itu menambah kecakapan dalam menguasai tali kekang untuk mengontrol tindakannya di kemudian hari, atau justru diam berhenti tidak melakukan apapun.

Masa lalu, kekurangan kita, nafsu kita, juga hal-hal lain yang kita anggap berat dalam diri kita akan terus terbawa dalam setiap diri masing-masing. Suka atau tidak suka, mereka selalu hadir dalam pandangan kita.

Gelap akan hadir sebagai teman bilamana kita bisa berdamai dengannya. Atau justru menjadi teror yang menakuti kita.

 

HAMPA

Sering kita bersenang senang bersama orang orang. Lalu ketika pulang dan sendiri merasa tak ada artinya. Itu hampa

Makan malam di restoran mewah menikmati apa yang tersedia disana. Sepulangnya kita merasa itu tak mengisi jiwa yang lapar. Hampa

Berlagak gila berbuat aneh aneh dan ketika itu merasa bahwa ini adalah pelampiasan rasa, namun di akhir hari nyatanya tak berguna. Hampa

Merasa bahwa tawa dan cinta saat ini adalah jawaban dari pertanyaan kita akan kasih sayang, namun dalam kesendirian kita tidak yakin dan masih bertanya tanya. Hampa

Tapi di lain hari kita berjalan sendiri lalu memberi sebagian kecil untuk seorang fakir yang butuh, Ia berterimakasih tak terhingga. Kita merasa berguna. Kita ada,

Di saat kawan yang terluka dan kita meraihnya tanpa diminta. Ia terharu hingga tersungkur padamu. Kita berguna. Kita ada,

Memberi apa yang kita kuasai kepada mereka yang haus wawasan hingga mereka terdidik. Kita berguna. Kita ada.

Berusaha keras mengerjakan karya yang kita tujukan untuk orang banyak agar bermanfaat untuk kehidupan. Kita berguna. Kita ada.

Semua kesendirian dan kebutuhan satu arah yang selalu kita kejar membuat hidup terasa tak akan terisi.

Karena hati dan rasa puas ini adalah lubang hitam tak berujung yang tak akan penuh dalamnya.

Ruang keinginan kita bagai pusaran yang kian besar apabila terus diberi dan tanpa sadar kita tersedot hingga habis.

Perkecil saja semua lubang ini dengan memberi ke tidak untuk diri sendiri. Tapi orang lain. Itu akan memperkecil keinginan kita untuk terus mengisi pusaran individu.

Kita tidak bisa memenuhi jiwa kita sendiri. Biarkan orang lain yang mengisi kekosongan itu. Dan relakanlah diri ini untuk mengisi kekosongan mereka.

Karena kita semua manusia yang harus berbagi. Sekecil apapun bagilah.

Dengan itu kita akan terisi. Tak akan penuh namun setidaknya tak akan lagi hampa.

Iga Massardi

Sering kita bersenang senang bersama orang orang. Lalu ketika pulang dan sendiri merasa tak ada artinya. Itu hampa

Makan malam di restoran mewah menikmati apa yang tersedia disana. Sepulangnya kita merasa itu tak mengisi jiwa yang lapar. Hampa

Berlagak gila berbuat aneh aneh dan ketika itu merasa bahwa ini adalah pelampiasan rasa, namun di akhir hari nyatanya tak berguna. Hampa

Merasa bahwa tawa dan cinta saat ini adalah jawaban dari pertanyaan kita akan kasih sayang, namun dalam kesendirian kita tidak yakin dan masih bertanya tanya. Hampa

Tapi di lain hari kita berjalan sendiri lalu memberi sebagian kecil untuk seorang fakir yang butuh, Ia berterimakasih tak terhingga. Kita merasa berguna. Kita ada,

Di saat kawan yang terluka dan kita meraihnya tanpa diminta. Ia terharu hingga tersungkur padamu. Kita berguna. Kita ada,

Memberi apa yang kita kuasai kepada mereka yang haus wawasan hingga mereka terdidik. Kita berguna. Kita ada.

Berusaha keras mengerjakan…

View original post 136 more words

Kopi Jam Dua Malam

Tuhanku, malam ini kita bertemu sekali lagi
Di kedai yang sama
Jam dua malam

Aku curahkan kembali pertanyaan yang tak kunjung kupecahkan
Juga isi hatiku yang tak elok-elok amat
Aku minta satu-dua hal yang entah apa layak Engkau berikan padaku
Aku minta ampun atas kesalahan sama yang aku ulangi kembali

Satu jam kita berbicara
Kau mendengarkan sambil menyesap kopi semesta
Aku rasakan kau hadir dihadapanku
Namun tak bisa ku menerka wajahMu

Iba kah Engkau?
Acuh kah Engkau?
Atau bahkan, marah kah Engkau?

Entahlah, tapi mulutku tak kuasa berhenti
Aku terus berbicara
Tak ada lagi kawan malam itu

Air mataku mengalir dalam gelas
Hingga penuh gelasku
Kuminum dengan getir,
satu-satunya minuman yang kudapatkan malam itu
Pahit

Seketika aku bisa rasakan wajahMu
Kulihat kasih terpancar di depanku
Dan cinta bertebaran di ruangan
Kau tersenyum riang
Seakan menemukan kawan yang hilang

Lalu Kau tepuk pundakku,
Dan bagi kopi semesta dalam gelasku

“Minumlah dengan penuh syukur!”
Kau berucap…
“Pulanglah hambaku, sesungguhnya banyak hal yang menunggumu di rumah.
Biar kuteraktir minumanmu, dan jangan pula kau ragu menemuiku disini.
Aku tak akan pergi kemana.”

Engkau tersenyum
Kuhabiskan kopiku tanpa sisa

 

Kutukan Orang Mati

Ingatlah tuan,
Suatu waktu kami akan muncul di ambang pintumu
Membalaskan bualan atas bangsamu itu
Yang dilampiaskan pada  tubuh kami
Tubuh yang saban hari bekerja untuk gaji pokokmu

Ingatlah tuan,
Suatu waktu kami akan menggugat karpet merahmu
Karpet yang dicelupkan pada samudra darah itu
Yang diteteskan dari darah kami
Darah yang sama, yang mengalir juga di nadimu

Ingatlah tuan,
Kutukan kami tak akan berubah menjadi sunyi
Ia akan terus terngiang dibawah bantalmu
Ia akan terus mengganggu tidurmu
Hingga keadilan datang padamu
Hingga maaf terlontar dari mulutmu

Kami tak akan berhenti

There She Goes

cybill shepherd-taxidriver

There she goes, walking down through the street
Casts magic to the world
Her spell fulfill the air
Dance with every men’s mind

One, two, three men fell down by her smile
Made them kneel down on their knee
One, two, three men paralyzed by her gaze
Left them stranded on their dreams

She was by her own
All alone
But, nobody can even dare to touch her
Not anybody
Not me
No, no, not even you

So, there she goes turned on the corner
Dissapeared at the edge of the street
Ruined every men’s life with a ten seconds spell
A fantasy
That will lasts for a decade

 

Sehari bersama Persib: dari tribun, hingga ke ruang ganti

2017-02-18-23-40-14

Kemarin (Jumat,17 Februari 2017) mungkin menjadi salah satu hari yang berkesan dalam hidup saya. Gak ada angin, gak ada hujan, saya diajak oleh ibu saya untuk menonton Persib Bandung, langsung dari tribun VVIP dan…. GRATIS.

Ibu saya mendapatkan undangan menonton ini dari teman masa kerjanya di sebuah rumah sakit dulu, yang ternyata adalah istri dari salah satu petinggi Persib Bandung saat ini. Saya gak mau sebut nama, tapi izinkan saya sebut beliau dengan “Bu Haji” dan suaminya yang pengurus Persib ini sebagai ”Pak Haji” di tulisan saya. *note: sanes wa haji umuh*

Tanpa pikir panjang segera saya mengiyakan untuk ikut menonton matchday ke-3 Piala Presiden menghadapi Persela di stadion Si Jalak Harupat (SJH). Ya kali nolak gratisan ehehe.

TRIBUN

Sebelum memasuki stadion, tentu rombongan saya dan bu haji ini tidak harus berdesakan mengantri masuk ke tribun seperti penonton lain pada umumnya. Jalurnya sangat khusus, dan hebatnya nyaris semua panitia di pintu masuk sudah familiar dengan bu haji ini. Tanpa ada bodycheck, kami masuk “begitu aja” ke tribun.

Gampangnya masuk ke SJH kali ini, jujur bikin saya ngerasa berdosa, karena saya tahu untuk masuk ke stadion rata-rata pengunjung bisa makan waktu berjam-jam berjejalan untuk mengantri. Barang yang boleh dibawa juga biasanya juga terbatas, contoh di tribun utara biasanya botol air minum kemasan tidak diperkenankan dibawa ke dalam dan airnya harus dimasukan ke dalam kantong plastik. Dan saya karena dengan ibu-ibu dengan bebasnya membawa makanan, selayaknya orang piknik ke Kebun Raya Bogor.

Pengalaman ini jelas beda dengan pengalaman-pengalaman saya sebelumnya nonton di stadion. Contohnya, waktu terakhir saya nonton Persib vs Arema di tribun utara GBK dulu. Waktu itu final Piala Bhayangkara kami harus berjejal sekitar 1,5 jam di luar stadion, menunggu pintu masuk ke stadion dibuka. Berdesakan dan penuh keringat.

Begitu masuk tribun VVIP SJH ini saya langsung rikuh. Belum pernah saya masuk ke tribun yang luar biasa nyaman kayak begini. Sumpah. Sangat tidak umum menonton bola di Indonesia dengan kenyamanan seperti ini. Kursinya empuk, yah sebelas-dua belas dengan kursi studio XXI. Dan bisa dilipat. Viewnya juga enak banget, bisa liat segala arah. Nyaris mirip dengan view nonton di TV. Seluruh pemain dari Kiper sampai penyerang bisa diliat dengan jelas pergerakannya.

Tapi, saya yang biasa nonton di tribun kelas rakyat ini ngerasa gak seru duduk di tribun VVIP. Penontonnya gak ngechants, gak nyanyi, diem semua hahaha (apalagi nontonnya bareng ibu2). Di babak kedua saya akhirnya ninggalin kursi nyaman saya, pindah ke space yang memungkinkan saya berdiri bebas. Ada space dekat tangga yang banyak ditempati orang bawa kamera DSLR (bisa wartawan/panitia saya gak yakin), polwan-polwan ajudan kapolda, panitia pertandingan, dan pengawas  pertandingan.

Unik sekali melihat pekerja-pekerja selain pemain yang ikut sibuk di pertandingan sepak bola. Panitia bername tag “LOC” (local committee organizer) mondar-mandir. Pengawas pertandingan, orang-orang PSSI yang dibekali laptop duduk mengetik, mengetik data statistik nampaknya. Polwan-polwan cantik (gareulis asli) mendokumentasikan Pak Kapolda yang ikut nonton. Juga wartawan yang diberikan desk khusus di tribun khusus pers mencatat segala hal yang terjadi di lapangan.

Di areal tribun ini (VVIP-VIP-barat-samping VIP), seperti saya katakan, kita bisa melihat segala pergerakan pemain dengan baik. Sangat berbeda dengan di TV, karena di TV kamera hanya menyorot pemain-pemain yang membawa bola saja. Disini kita bisa melihat rapinya formasi yang dibuat sebuah tim. Pemain mana yang rajin berlarian membuka ruang, hingga pemain yang agak malas-malasan bergerak bisa dengan jelas diamati. Maka tidak heran, banyak scout talent, wartawan, hingga pencatat data statistik sering menjadikan areal tribun sekitaran VVIP ini sebagai wilayah favorit kerja mereka.

Disini, efek “wow” melihat gocekan dan akselerasi Febri Haryadi sangat terasa, kerennya akselerasi Febri  saat menyusuri sayap  membuat seluruh penonton berdecak kagum. Winger Persib ini berlari kencang menyusuri sisi lapangan dengan kecepatan tinggi, lewati satu-dua pemain, dan melakukan penetrasi ke kotak penalti. Seringkali penonton berdiri dari tempat duduknya, terkagum dengan aksi wonderkid Persib satu ini. Menantikan gerakan ajaib apalagi yang akan dia buat.

Belum lagi melihat langsung aksi Vladimir ‘Vlado’ Vujovic yang melakukan tekel bersih sangat-sangat memperlihatkan kelasnya sebagai defender mumpuni.

Umpan Hariono dari tengah ke sayap-sayap Persib yang kalau di TV terlihat standar saja bagi sebagian orang, terasa sangat jenius. Cerdik sekali Hariono dalam melihat gerak pemain Persib di sayap. Di tengah kerumunan zonal defence Persela yang cukup ketat, dengan elegan Mas Har membagi bola ke lini depan. Kelas.

Klimaksnya, tentu saat mencetak gol. Seluruh penonton bangkit dari tempat duduk, melompat-lompat kegirangan. Berteriak “GOOOOOL” dengan sangat lantang. Lebih keras dari teriakan orang membangunkan sahur di bulan puasa saya rasa. Ada juga yang mengepalkan tangan ke udara. Ada yang berjoget-joget, menari-nari. Tidak terkecuali ibu saya. Iya, ibu saya.

Militansi bobotoh bisa saya amati dari tribun ini. Hari itu, bobotoh di tribun utara membuat koreo dari kertas-kertas perak di tangan mereka. Tangan mereka bergerak melambai ke kiri-kanan, nampak seperti ombak silver yang bergemuruh dari kejauhan. Sementara di selatan, berpuluh-puluh giant flag berkibar, tidak kalah liarnya dengan yellow wall Borussia Dortmund. Semua manusia seakan melupakan problem hidup masing-masing, terbius selama 2×45 menit di 24 jam sibuk mereka.

Rasanya saya bisa merasakan seisi stadion bernafas waktu itu.

RUANG GANTI

Selepas pertandingan, saya digiring bu haji turun ke bawah. Saya pikir mau langsung ke mobil. Ternyata, oh ternyata nampaknya saya harus minta maaf ke si Brian (teman viking saya). Rombongan diarahkan ke arah ruang ganti pemain. Tepat di luarnya! Pengamanannya sangat ketat, banyak pihak keamanan swasta yang berjaga. Yang semuanya salim ke bu haji. Wah, kehormatan banget bobotoh biasa kayak saya bisa bebas berdiri disini. Ada bobotoh yang bandel ke zona ini segera diusir dengan keras oleh bodyguard-bodyguard ini.

Saya juga melihat langsung keluarga pemain diperlakukan sangat baik oleh manajemen. Terlihat dari akrabnya bu haji menyapa satu-satu anggota keluarga pemain. Juga pacar pemain yang belum menikah. Sangat dekat, nyaris tanpa jarak. Gak heran, banyak mantan Persib yang keluarin statement di media ingin balik lagi ke Persib. Karena ya memang seperti ini, kekeluargaan sekali saya lihat.

Ada mas Tony Sucipto bermain-main dengan anaknya yang masih bayi. Wak Djajang Nurjaman nampak mondar-mandir untuk konferensi pers, ditemani pencetak gol hari itu, si jangkung Sergio Van Dijk. Saya juga liat kang Yana komandan Persib diwawancara salah satu media. Tontonan yang jarang ditemukan oleh penggemar bola layar kaca seperti saya.

Dan, tiba-tiba momen yang diimpikan seluruh penggemar bola itu pun terjadi. Pak Haji mengajak saya untuk memasuki ruang ganti pemain.

“A, mau foto sama pemain?”

“Boleh gitu pak?” saya cuma bisa nyengir aja.

“Hayu”

Dalam imajinasi saya, ruang ganti pemain biasanya sangat fancy, mewah, bersih. Seperti yang sering kita lihat di stadion klub liga-liga besar di Eropa. Ternyata di SJH, ruang gantinya sangat biasa saja. Lampunya sedikit remang, lantainya terbuat dari ubin biasa, bahkan bisa dibilang agak sedikit kotor.

Ruangan yang lumayan luas itu, dikelilingi dengan loker kayu ukuran 1×2 meter bagi masing-masing pemain. Loker kayu yang mirip rupanya dengan lemari baju satu pintu yang biasa ada di kamar tidur. Hanya saja tidak berpintu, plus ada tempat duduk di dalamnya. Tidak ada dekorasi apapun di dinding. Tidak seperti yang saya bayangkan.

Di ruangan ganti yang standar itu, saya melongo tidak percaya. Diam seribu bahasa. Jantung berdegup kencang. Lebih hebat dari ketemu gebetan.

Atep saya lihat sedang asik duduk bersila di lantai bersama Made Wirawan, sambil makan pop mie. Iya, pop mie! Yang sering kita makan di kapal feri! Vlado sedang serius video call dengan keluarganya. Ah, sayang Mas Hariono lagi mandi euy. Ada juga Kim, Wildansyah, Erick Weeks, dan beberapa pemain muda yang maaf saya belum hafal wajahnya.

Makin dilihat saya makin sadar. Pemain yang bobotoh saalam dunya dewa-dewakan itu juga ternyata sesosok manusia biasa. Tersusun bentuknya oleh tulang, dibungkus daging dan kulit. Hanya saja, tanpa ada bau keringat sama sekali! Sulit dibayangkan mengingat mereka main 2×45 menit dan berlarian sekitar 8-10km setiap pertandingan.

Sangat beda dengan kita yang makan nasi padang berlemak sembarangan, rajin begadang, dan  olahraga pun cuma push up semaunya. Hasil dari pola hidup sehat tingkat tinggi memang gak bisa bohong.

Saya, sejujurnya jadi merasa gak enak mengganggu waktu santai mereka, sambil bilang ke pak haji, “Waduh pak, bener boleh foto nih?”

fotobareng-pemain-persibfoto sama pemain (yang lain masih mandi)

Saya dan pak haji mengelilingi pemain untuk foto. Saya sendiri bingung mau ngomong apa ke pemain. Tidak bisa menghilangkan rasa gugup saya. Saya cuma salaman aja sambil nyengir  difoto pak haji. Jujur, seandainya saya ulang adegan itu, saya mau bilang satu per satu ke mereka. Kalau mereka adalah idola saya, dan saya sebagai bobotoh, bangga dengan apa yang mereka kasih di atas lapangan.

PULANG

Sepanjang kepulangan saya dengan rombongan bis Persib, saya melihat antusias masyarakat yang luar biasa. Di sepanjang jalan dari SJH sampai ke Kopo, jalanan penuh. Orang-orang mengelu-elukan pemain sepanjang jalan, bobotoh yang bandel ikut rombongan polisi,  diteriaki barisan bodyguard bermotor untuk minggir. Riuh.

Mungkin sejak Persib merebut ISL 2014 lalu, Persib mendapatkan sorotan yang luar biasa dari masyarakat hingga kini. Plus, performa yang cukup stabil beberapa tahun ini membuat masyarakat sangat gegap gempita menyambut Persib dimanapun berada. Persib fever nampaknya menjangkiti semua masyarakat. Dari kalangan anak remaja hingga ibu rumah tangga. Dari pekerja honrer hingga petinggi perusahaan. Masyarakat seolah menyingkirkan segala persoalan hidupnya, teralihkan oleh Persib.

Dalam hati, saya ngeri juga. Ini adalah momen yang sedang bagus dari Persib, semua mengharapkan Persib terus menang. Tapi saya juga tidak bisa menyingkirkan fakta, bahwa pemain adalah manusia, sama seperti kita. Yang juga terkadang memiliki permasalahan dan mengganggu permainan mereka di lapangan. Belum lagi, lawan kuat yang tidak bisa diprediksi bisa mengganjal Persib. Persib bisa saja kalah sewaktu-waktu.

Dibalik hingar-bingar, saya memikirkan perasaan pemain. Bagaimana perasaan mereka disambut seperti ini setiap pulang berlaga. Senang kah? Atau malah terbebani ya? Saya harap pemain bisa menyingkirkan beban itu, melupakannya, dan terus fokus dengan pengembangan diri mereka demi bermain maksimal. Cukup itu saja, bermain maksimal, hasil Tuhan yang mengatur. Dan saya harap bobotoh juga selalu bisa bijak menyikapi up and down pemain yang pasti terjadi selama kompetisi, tidak melupakan fakta bahwa pemain adalah manusia biasa, bukan dewa.

Memastikan dukungan terus mengalir demi menggelorakan pasukan Maung Bandung adalah tugas saya, anda, dan kita sebagai bobotoh.