Sehari bersama Persib: dari tribun, hingga ke ruang ganti

2017-02-18-23-40-14

Kemarin (Jumat,17 Februari 2017) mungkin menjadi salah satu hari yang berkesan dalam hidup saya. Gak ada angin, gak ada hujan, saya diajak oleh ibu saya untuk menonton Persib Bandung, langsung dari tribun VVIP dan…. GRATIS.

Ibu saya mendapatkan undangan menonton ini dari teman masa kerjanya di sebuah rumah sakit dulu, yang ternyata adalah istri dari salah satu petinggi Persib Bandung saat ini. Saya gak mau sebut nama, tapi izinkan saya sebut beliau dengan “Bu Haji” dan suaminya yang pengurus Persib ini sebagai ”Pak Haji” di tulisan saya. *note: sanes wa haji umuh*

Tanpa pikir panjang segera saya mengiyakan untuk ikut menonton matchday ke-3 Piala Presiden menghadapi Persela di stadion Si Jalak Harupat (SJH). Ya kali nolak gratisan ehehe.

TRIBUN

Sebelum memasuki stadion, tentu rombongan saya dan bu haji ini tidak harus berdesakan mengantri masuk ke tribun seperti penonton lain pada umumnya. Jalurnya sangat khusus, dan hebatnya nyaris semua panitia di pintu masuk sudah familiar dengan bu haji ini. Tanpa ada bodycheck, kami masuk “begitu aja” ke tribun.

Gampangnya masuk ke SJH kali ini, jujur bikin saya ngerasa berdosa, karena saya tahu untuk masuk ke stadion rata-rata pengunjung bisa makan waktu berjam-jam berjejalan untuk mengantri. Barang yang boleh dibawa juga biasanya juga terbatas, contoh di tribun utara biasanya botol air minum kemasan tidak diperkenankan dibawa ke dalam dan airnya harus dimasukan ke dalam kantong plastik. Dan saya karena dengan ibu-ibu dengan bebasnya membawa makanan, selayaknya orang piknik ke Kebun Raya Bogor.

Pengalaman ini jelas beda dengan pengalaman-pengalaman saya sebelumnya nonton di stadion. Contohnya, waktu terakhir saya nonton Persib vs Arema di tribun utara GBK dulu. Waktu itu final Piala Bhayangkara kami harus berjejal sekitar 1,5 jam di luar stadion, menunggu pintu masuk ke stadion dibuka. Berdesakan dan penuh keringat.

Begitu masuk tribun VVIP SJH ini saya langsung rikuh. Belum pernah saya masuk ke tribun yang luar biasa nyaman kayak begini. Sumpah. Sangat tidak umum menonton bola di Indonesia dengan kenyamanan seperti ini. Kursinya empuk, yah sebelas-dua belas dengan kursi studio XXI. Dan bisa dilipat. Viewnya juga enak banget, bisa liat segala arah. Nyaris mirip dengan view nonton di TV. Seluruh pemain dari Kiper sampai penyerang bisa diliat dengan jelas pergerakannya.

Tapi, saya yang biasa nonton di tribun kelas rakyat ini ngerasa gak seru duduk di tribun VVIP. Penontonnya gak ngechants, gak nyanyi, diem semua hahaha (apalagi nontonnya bareng ibu2). Di babak kedua saya akhirnya ninggalin kursi nyaman saya, pindah ke space yang memungkinkan saya berdiri bebas. Ada space dekat tangga yang banyak ditempati orang bawa kamera DSLR (bisa wartawan/panitia saya gak yakin), polwan-polwan ajudan kapolda, panitia pertandingan, dan pengawas  pertandingan.

Unik sekali melihat pekerja-pekerja selain pemain yang ikut sibuk di pertandingan sepak bola. Panitia bername tag “LOC” (local committee organizer) mondar-mandir. Pengawas pertandingan, orang-orang PSSI yang dibekali laptop duduk mengetik, mengetik data statistik nampaknya. Polwan-polwan cantik (gareulis asli) mendokumentasikan Pak Kapolda yang ikut nonton. Juga wartawan yang diberikan desk khusus di tribun khusus pers mencatat segala hal yang terjadi di lapangan.

Di areal tribun ini (VVIP-VIP-barat-samping VIP), seperti saya katakan, kita bisa melihat segala pergerakan pemain dengan baik. Sangat berbeda dengan di TV, karena di TV kamera hanya menyorot pemain-pemain yang membawa bola saja. Disini kita bisa melihat rapinya formasi yang dibuat sebuah tim. Pemain mana yang rajin berlarian membuka ruang, hingga pemain yang agak malas-malasan bergerak bisa dengan jelas diamati. Maka tidak heran, banyak scout talent, wartawan, hingga pencatat data statistik sering menjadikan areal tribun sekitaran VVIP ini sebagai wilayah favorit kerja mereka.

Disini, efek “wow” melihat gocekan dan akselerasi Febri Haryadi sangat terasa, kerennya akselerasi Febri  saat menyusuri sayap  membuat seluruh penonton berdecak kagum. Winger Persib ini berlari kencang menyusuri sisi lapangan dengan kecepatan tinggi, lewati satu-dua pemain, dan melakukan penetrasi ke kotak penalti. Seringkali penonton berdiri dari tempat duduknya, terkagum dengan aksi wonderkid Persib satu ini. Menantikan gerakan ajaib apalagi yang akan dia buat.

Belum lagi melihat langsung aksi Vladimir ‘Vlado’ Vujovic yang melakukan tekel bersih sangat-sangat memperlihatkan kelasnya sebagai defender mumpuni.

Umpan Hariono dari tengah ke sayap-sayap Persib yang kalau di TV terlihat standar saja bagi sebagian orang, terasa sangat jenius. Cerdik sekali Hariono dalam melihat gerak pemain Persib di sayap. Di tengah kerumunan zonal defence Persela yang cukup ketat, dengan elegan Mas Har membagi bola ke lini depan. Kelas.

Klimaksnya, tentu saat mencetak gol. Seluruh penonton bangkit dari tempat duduk, melompat-lompat kegirangan. Berteriak “GOOOOOL” dengan sangat lantang. Lebih keras dari teriakan orang membangunkan sahur di bulan puasa saya rasa. Ada juga yang mengepalkan tangan ke udara. Ada yang berjoget-joget, menari-nari. Tidak terkecuali ibu saya. Iya, ibu saya.

Militansi bobotoh bisa saya amati dari tribun ini. Hari itu, bobotoh di tribun utara membuat koreo dari kertas-kertas perak di tangan mereka. Tangan mereka bergerak melambai ke kiri-kanan, nampak seperti ombak silver yang bergemuruh dari kejauhan. Sementara di selatan, berpuluh-puluh giant flag berkibar, tidak kalah liarnya dengan yellow wall Borussia Dortmund. Semua manusia seakan melupakan problem hidup masing-masing, terbius selama 2×45 menit di 24 jam sibuk mereka.

Rasanya saya bisa merasakan seisi stadion bernafas waktu itu.

RUANG GANTI

Selepas pertandingan, saya digiring bu haji turun ke bawah. Saya pikir mau langsung ke mobil. Ternyata, oh ternyata nampaknya saya harus minta maaf ke si Brian (teman viking saya). Rombongan diarahkan ke arah ruang ganti pemain. Tepat di luarnya! Pengamanannya sangat ketat, banyak pihak keamanan swasta yang berjaga. Yang semuanya salim ke bu haji. Wah, kehormatan banget bobotoh biasa kayak saya bisa bebas berdiri disini. Ada bobotoh yang bandel ke zona ini segera diusir dengan keras oleh bodyguard-bodyguard ini.

Saya juga melihat langsung keluarga pemain diperlakukan sangat baik oleh manajemen. Terlihat dari akrabnya bu haji menyapa satu-satu anggota keluarga pemain. Juga pacar pemain yang belum menikah. Sangat dekat, nyaris tanpa jarak. Gak heran, banyak mantan Persib yang keluarin statement di media ingin balik lagi ke Persib. Karena ya memang seperti ini, kekeluargaan sekali saya lihat.

Ada mas Tony Sucipto bermain-main dengan anaknya yang masih bayi. Wak Djajang Nurjaman nampak mondar-mandir untuk konferensi pers, ditemani pencetak gol hari itu, si jangkung Sergio Van Dijk. Saya juga liat kang Yana komandan Persib diwawancara salah satu media. Tontonan yang jarang ditemukan oleh penggemar bola layar kaca seperti saya.

Dan, tiba-tiba momen yang diimpikan seluruh penggemar bola itu pun terjadi. Pak Haji mengajak saya untuk memasuki ruang ganti pemain.

“A, mau foto sama pemain?”

“Boleh gitu pak?” saya cuma bisa nyengir aja.

“Hayu”

Dalam imajinasi saya, ruang ganti pemain biasanya sangat fancy, mewah, bersih. Seperti yang sering kita lihat di stadion klub liga-liga besar di Eropa. Ternyata di SJH, ruang gantinya sangat biasa saja. Lampunya sedikit remang, lantainya terbuat dari ubin biasa, bahkan bisa dibilang agak sedikit kotor.

Ruangan yang lumayan luas itu, dikelilingi dengan loker kayu ukuran 1×2 meter bagi masing-masing pemain. Loker kayu yang mirip rupanya dengan lemari baju satu pintu yang biasa ada di kamar tidur. Hanya saja tidak berpintu, plus ada tempat duduk di dalamnya. Tidak ada dekorasi apapun di dinding. Tidak seperti yang saya bayangkan.

Di ruangan ganti yang standar itu, saya melongo tidak percaya. Diam seribu bahasa. Jantung berdegup kencang. Lebih hebat dari ketemu gebetan.

Atep saya lihat sedang asik duduk bersila di lantai bersama Made Wirawan, sambil makan pop mie. Iya, pop mie! Yang sering kita makan di kapal feri! Vlado sedang serius video call dengan keluarganya. Ah, sayang Mas Hariono lagi mandi euy. Ada juga Kim, Wildansyah, Erick Weeks, dan beberapa pemain muda yang maaf saya belum hafal wajahnya.

Makin dilihat saya makin sadar. Pemain yang bobotoh saalam dunya dewa-dewakan itu juga ternyata sesosok manusia biasa. Tersusun bentuknya oleh tulang, dibungkus daging dan kulit. Hanya saja, tanpa ada bau keringat sama sekali! Sulit dibayangkan mengingat mereka main 2×45 menit dan berlarian sekitar 8-10km setiap pertandingan.

Sangat beda dengan kita yang makan nasi padang berlemak sembarangan, rajin begadang, dan  olahraga pun cuma push up semaunya. Hasil dari pola hidup sehat tingkat tinggi memang gak bisa bohong.

Saya, sejujurnya jadi merasa gak enak mengganggu waktu santai mereka, sambil bilang ke pak haji, “Waduh pak, bener boleh foto nih?”

fotobareng-pemain-persibfoto sama pemain (yang lain masih mandi)

Saya dan pak haji mengelilingi pemain untuk foto. Saya sendiri bingung mau ngomong apa ke pemain. Tidak bisa menghilangkan rasa gugup saya. Saya cuma salaman aja sambil nyengir  difoto pak haji. Jujur, seandainya saya ulang adegan itu, saya mau bilang satu per satu ke mereka. Kalau mereka adalah idola saya, dan saya sebagai bobotoh, bangga dengan apa yang mereka kasih di atas lapangan.

PULANG

Sepanjang kepulangan saya dengan rombongan bis Persib, saya melihat antusias masyarakat yang luar biasa. Di sepanjang jalan dari SJH sampai ke Kopo, jalanan penuh. Orang-orang mengelu-elukan pemain sepanjang jalan, bobotoh yang bandel ikut rombongan polisi,  diteriaki barisan bodyguard bermotor untuk minggir. Riuh.

Mungkin sejak Persib merebut ISL 2014 lalu, Persib mendapatkan sorotan yang luar biasa dari masyarakat hingga kini. Plus, performa yang cukup stabil beberapa tahun ini membuat masyarakat sangat gegap gempita menyambut Persib dimanapun berada. Persib fever nampaknya menjangkiti semua masyarakat. Dari kalangan anak remaja hingga ibu rumah tangga. Dari pekerja honrer hingga petinggi perusahaan. Masyarakat seolah menyingkirkan segala persoalan hidupnya, teralihkan oleh Persib.

Dalam hati, saya ngeri juga. Ini adalah momen yang sedang bagus dari Persib, semua mengharapkan Persib terus menang. Tapi saya juga tidak bisa menyingkirkan fakta, bahwa pemain adalah manusia, sama seperti kita. Yang juga terkadang memiliki permasalahan dan mengganggu permainan mereka di lapangan. Belum lagi, lawan kuat yang tidak bisa diprediksi bisa mengganjal Persib. Persib bisa saja kalah sewaktu-waktu.

Dibalik hingar-bingar, saya memikirkan perasaan pemain. Bagaimana perasaan mereka disambut seperti ini setiap pulang berlaga. Senang kah? Atau malah terbebani ya? Saya harap pemain bisa menyingkirkan beban itu, melupakannya, dan terus fokus dengan pengembangan diri mereka demi bermain maksimal. Cukup itu saja, bermain maksimal, hasil Tuhan yang mengatur. Dan saya harap bobotoh juga selalu bisa bijak menyikapi up and down pemain yang pasti terjadi selama kompetisi, tidak melupakan fakta bahwa pemain adalah manusia biasa, bukan dewa.

Memastikan dukungan terus mengalir demi menggelorakan pasukan Maung Bandung adalah tugas saya, anda, dan kita sebagai bobotoh.

 

Advertisements